Ukuran Cetak Foto & Resolusi Foto Digital

Terkadang kita sering lupa, berapa ukuran / dimensi panjang x lebar dari sebuah kertas foto pada saat ingin melakukan pencetakan. Demikian juga dengan ukuran resolusi sebuah foto digital, dan bagaimana kaitannya dengan hasil pencetakan di kertas foto.

Hasil foto dengan menggunakan Kamera Digital bisa kita lihat langsung melalui Komputer tanpa harus membawa ke lab foto untuk dicetak. Namun tidak bisa dihindari bahwa kita terkadang masih memerlukan hasil foto yang dicetak sehingga bisa dilihat kapan saja dan dimana saja tanpa tergantung dengan komputer. Meskipun kualitas sebuah foto digital ditentukan oleh banyak faktor, tapi resolusi tetap menjadi salah satu penentu utama. Resolusi diukur dengan satuan pixel (bujursangkar berisi informasi warna) yaitu jumlah detil yang bisa ditangkap oleh kamera. Makin banyak jumlah pixel dalam satuan luas, makin halus dan baik kualitas foto digital. Resolusi kamera juga terkait dengan proses cetak tadi. Besar Resolusi yaitu 1280×960 (1MegaPixel), 1600×1200 (2MP), 3MP, 10MP dan lain-lain itu adalah menandakan banyaknya titik yang ada dalam gambar tersebut. Semisal foto dengan resolusi 1600×1200 berarti ada 1600 titik di horizontal dan 1200 titik di vertikal. Untuk resolusi 1 megapixel ukuran maksimum pencetakan adalah 4×6 inci. Sedangkan ukuran maksimum pencetakan kamera dengan resolusi 5 megapixel bisa mencapai 14×17 inci.

imajiplus.wordpress.com

Densitas foto 72dpi, 180dpi, maupun 300dpi (terlihat pada EXIF data yang menempel pada foto yang bersangkutan) itu menandakan tingkat kerapatan dari titik-titik tersebut dalam suatu satuan ukuran inch (dot per inch). Misalnya kita selama ini mendengar ada printer berkemampuan cetak dengan densitas 300dpi, 600dpi, 1200dpi, maupun 4800dpi. Contoh printer dengan kemampuan densitas 4800dpi itu berarti bisa mencetak sebanyak 4800 titik sepanjang garis 1 inch (2,54cm), begitu juga dengan printer berkemampuan densitas 300dpi berarti hanya bisa mencetak 300 titik sepanjang garis 1 inch (2,54cm).

Terkait dengan hal-hal diatas, maka kita patut mengetahui juga bahwa mesin cetak foto itu biasanya berkemampuan densitas 300dpi sehingga kita akhirnya sering memakai patokan ini sebagai standard densitas minimum yang diperlukan baik untuk mencetak di laboratorium foto ataupun dengan printer sendiri.

Berikut daftar ukuran kertas foto yang biasanya dipakai di laboratorium foto serta perbandingannya dengan resolusi foto (@300dpi) :

KODE IN MM CM DIMENSI PIXEL
3 R 3,5 x 5 89 x 127 8,89 X 12,7 1051×1500  (1,5MP)
4 R 4 x 6 102 x 152 10,16 x 15,24 1205×1795 (2,1 MP)
5 R 5 x 7 127 x 178 12,7 x 17,78 1500×2102 (3,1 MP)
6 R 6 x 8 152 x 203 15,24 x 20,32 1795×2551 (4,5 MP)
8 R 8 x 10 203 x 254 20,32 x 25,4 2398×3000 (7,1 MP)
S8 R 8 x 12 203 x 305   2398×3602 (8,6 MP)
10 R 10 x 12 254 x 305 25,4 x 30,48 3000×3602 (11 MP)
S10 R 10 x 15 254 x 381   3000 x 4500 (13,5 MP)
11 R 11 x 14 279 x 356    3300×4200 (14 MP)
S11 R 11 x 17 279 x 432    3300×5100 (17 MP)
12 R 12 x 15 305 x 381 30,48 x 39,37  3600×4500 (16 MP)
S12 R 12 x 18 305 x 465    3600×5400 (19 MP)
16 R 16 x 20   40,64 x 50,8  4800×6000 (29 MP)
20 R 20 x 24   50,8 x 60,96  6000×7200 (44 MP)
24 R 24 x 31,5   60,96 x 80  7200×9450 (68 MP)
30 R 30 x 40   75 x 100  9000×12000 (108 MP)

Kita akan mengambil contoh salah satu ukuran yang biasa dipakai yaitu 4R  (10,2×15,2cm), penghitungannya adalah:

(10,2cm : 2,54) x 300dpi = 1204 titik atau pixel

(15,2cm : 2,54) x 300dpi = 1795 titik atau pixel.

Dengan ini berarti kita mengetahui bahwa resolusi minimum yang dibutuhkan untuk mencetak 4R adalah 1795×1204 pixel. Sehingga resolusi kamera digital yang mendekati ukuran tersebut mungkin adalah 2MP yaitu 1600×1200. Tetapi harus diingat bahwa adanya perbedaan rasio panjang lebar antara file kamera digital (4:3) dengan standar kertas foto (3:2) itu biasanya berakibat terjadinya cropping (pemotongan) pada sisi-sisi foto karena laboratorium foto biasanya melakukan sedikit peregangan secara otomatis pada file-file yang bersangkutan, misalnya foto dengan resolusi 1600×1200 akan diperbesar menjadi 1795×1346 untuk memenuhi ukuran frame minimal dari 4R untuk kemudian dicropping lagi sehingga bagian yang tercetak itu tetap beresolusi 1795×1204.

Ada beberapa kasus dimana ada yang berhasil melakukan pencetakan dengan ukuran 8R hanya dengan kamera 2MP ataupun juga mungkin bisa 10R. Dalam hal ini kita harus melihat lagi beberapa hal yaitu :

  1. Kompleksitas dari gambar yang diambil, misalnya gambar-gambar dokumentasi orang tentunya jauh berbeda tingkat detailnya dibandingkan dengan gambar pemandangan alam misalnya pada waktu sunrise. Dalam hal ini gambar orang biasanya lebih mudah untuk diperbesar dibandingkan dengan gambar pemandangan alam.
  2. Tingkat kompresi dari gambar yang dipakai (dengan ACDSee biasanya terlihat pada menuproperties/file/compression ratio). Biasanya file-file yang berpotensi dan bisa dicetak jauh lebih besar dari ukuran yang direkomendasikan memiliki tingkat kompresi antara 5 – 10. Lebih dari itu, biasanya sulit sekali untuk meningkatkan ukuran gambar.
  3. Ada beberapa kamera yang menyediakan mode RAW dan juga mode TIFF pada hasil akhir gambar yang ditangkap, dalam hal RAW file dan TIFF file itu tidak terdapat kompresi sama sekali sehingga sangat dimungkinkan untuk melakukan resize ulang untuk melakukan cetak pada ukuran lebih besar.

Dari 3 hal diatas, seringkali kita masih bisa melakukan cetak 10R maupun 12R dengan kamera 4MP meskipun secara perhitungan tidak memungkinkan untuk melakukan pencetakan tersebut. Dalam hal ini kita bisa melakukan tes sederhana apakah file yang bersangkutan masih bisa untuk dicetak pada ukuran yang bersangkutan atau tidak dengan cara melakukan image resize pada photoshop.

 

http://imajiplus.wordpress.com/teknik-technic/tips-trick/ukuran-cetak-foto/

Advertisements

Beda Mengasuh Anak Ala Sengkuni VS Antagopa

Tulisan yang ditulis kali ini bukan murni 100% tulisan dari saya. Sempat tergelitik saat membaca sebuah tulisan karya Ono Sarwono di koran Media Indonesia hal 10, Minggu 22 September 2013 dengan judul serupa, Antara Sengkuni dan Antagopa. Karena menurut saya sayang bila hanya menggelitik saya seorang, maka layak saya sajikan kepada pembaca blog yang beriman 🙂

Cerita dibawah berkutat soal bagaimana dua tokoh pewayangan beda alam tersebut mengasuh anak-anaknya untuk mengukir masa depan.

 

Kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan AQJ, 13, dan mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia memunculkan kembali diskusi publik soal pola pengasuhan anak. Memang tidak sedikit orangtua berpunya di negeri ini yang memanjakan buah hati mereka dengan kelimpahan materi tanpa wanti-wanti. Sebagian lain adapula memberikan bekal pas sesuai kebutuhan sang anak. Begitu pula dalam pendidikan. Ada yang memilih ini dan itu, yang semuanya diyakini sebagai yang terbaik.

Tentu, mengasuh dan mendidik anak adalah hak orangtua. Mereka juga bebas untuk menentukan terkait dengan hal itu. Seperti halnya yang dilakukan penguasa ad interim Negeri Astina Destarastra dan Raja Mandura Basudewa. Keduanya sama-sama menyerahkan anak-anak mereka kepada pihak lain untuk digulawentah – diasuh dan dibesarkan.

Anak Destarastra, yang berjumlah seratus orang dan dikenal dengan Kurawa, ditangani adik iparnya, Tri Gandalpatri, yang kelak dikemudian hari, kondang dengan nama Sengkuni. Adapun tiga anak Basudewa diasuh demang – kepala dusun – bernama Antagopa bersama istrinya, Nyai Sagopi, di Widarakandang yang masih dalam wilayah Mandura.

Pragmatisme

Keputusan Destarastra agar anak-anaknya dididik Sengkuni itu lebih banyak karena pengaruh istrinya, Dewi Gendari. Di sisi lain, Destarastra sendiri merasa keterbatasan fisik karena sejak lahir tidak pernah meilhat padangnya jagat alias tunanetra.

Hubungan Gendari dan Sengkuni adalah kakak dan adik. Gendari berambisi anaknya dididik dan menjadi raja di Astina jika raja Prabu Pandudewanata lengser. Itu target impulsif karena berdasarkan konstitusi Astina, jika Raja Pandudewanata berhalangan tetap atau mangkat, yang menjadi raja semestinya adalah anaknya, keluarga Pandawa.

Sengkuni, yang kaya akal-ukil, mengasah Kurawa siang malam dengan aliran Pragmatisme. Motonya, hidup untuk kenikmatan duniawi. Akhirnya, semua keponakannya itu rata-rata menjadi hedonis dan gandrung foya-foya. Dalam berpolitik pun, mereka semua penganut mahzab Niccoli Machiavelli, yakni menghalalkan segala cara.

Berkat kelimpahan dan keculasannya, Sengkuni akhirnya memang sukses mengantarkan sulung Kurawa, Duryudana, menjadi raja. Kekusaan itu direbut melalui kudeta berbingkai tipu muslihat. Untuk memenangkan takhtanya, Kurawa diindoktrinasi bahwa satu-satunya cara adalah dengan membinasakan Pandawa, saudara sepupu mereka sendiri. Tetapi, kodrat menentukan lain. kekuasaan Duryudana tidak bertahan lama. Bahkan, ia dan seluruh keluarga Kurawa mati konyol di tangan Pandawa di Kurusetra dalam perang Baratayuda. Bukan itu saja anak keturunan Kurawa pun tumpes kelor, habis hingga akarnya.

 

Disayangi Dewa

Berbeda dengan Basudewa. Ia sengaja meminggirkan ketiga anaknya – Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng – dari kehidupan istana yang serba ada ke dusun Widarakandang atas dasar keyakinan dan visi ke depan. Ini sebetulnya keputusan beresiko karena ketiga anak itu adalah penyambung estafet penguasa di Mandura. Istana Mandura sebenarnya tidak kekurangan guru pintar atau begawan dan resi yang khatam segala ilmu tata negara dan Kanuragan.

Namun, Basudewa kukuh bahwa anak-anaknya disingitkan di desa. Ia ingin anak-anaknya mengasah kepekaan rasa dan batinnya dengan hidup sebagai warga berkasta pidak pedaran atau jelata.

Karena di dusun, materi-materi yang diajarkan Antagopa dan Sagopi kepada Kakasrana dan adik-adiknya tidak jauh dari urusan sawah dan ladang. Setiap malam, atau di sela-sela kesibukan keseharian, mereka dibekali pendidikan budi pekerti dan tuntunan luhur.

Singkat cerita, Kakasrana, Narayana, dan Rara Ireng menjadi anak-anak terkemuka yang rendah hati dan prasaja. Mereka menjadi mustika Mandura sekaligus anak anung anindita, yang artinya anak yang bisa menjunjung tinggi harkat dan martabat orangtua dan leluhur.

Lebih dari itu, para dewa di Kahyangan pun angkat topi atas kualitas luar dalam ketiganya. Mereka pun pernah memerintahkan Kakasrana dan Narayana mengenyahkan satru (musuh) yang menjamah kesucian Kahyangan. Tugas itu dilaksanakan dengan tuntas.

Dewasanya, Kakasrana menjadi raja Mandura setelah ayahnya, Basudewa meletakkan jabatan. Narayana, dengan kesucian mata batinnya, menjadi ‘rumah’ bagi Bethara Wisnu, dewa pengatur ketentaraman jagat. Narayana juga menjadi raja di Dwarawati. Adapun Rara Ireng menurunkan cucu yang berkuasa di Yawastina, Parikesit.

Dari cerita itu, kita bisa ambil nilainya, bagaimana sebaiknya mendidik anak yang sesungguhnya merupakan amanah. Kurawa yang pragmatis berakhir konyol. Adapun Kakasrana dan adik-adiknya yang sejak kecil hingga dewasa digenturkan tapa dan laku prihatin, akhirnya memetik hasilnya menjadi priyai-priyai agung linuwih.

 

Image

Berdiri sendiri

Berdiri Sendiri. Arsitektural

Sorong, Pintu Gerbang Menuju Raja Ampat Papua

Gambar

Kepulauan Raja Ampat merupakan rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan dan berlokasi di barat bagian Kepala Burung (Vogelkoop) Pulau Papua. Raja Ampat sebagai salah satu tempat penyelaman paling terkenal di dunia. Tetapi kali ini saya tidak akan membahas tentang Raja Ampat atau biasa disebut Four Kings, Kota Sorong sebagai gerbang bilamana kita ingin menuju Kepulauan Raja Ampat.

Kota Sorong adalah sebuah kota di Provinsi Papua Barat, Indonesia. Kota ini dikenal dengan sebutan Kota Minyak, di mana Nederlands Neauw Guinea Petroleum Matschcapeij (NNGPM) mulai melakukan aktivitas pengeboran minyak bumi di Sorong sejak tahun 1935.

Nama Sorong berasal dari kata soren. Soren dalam bahasa Biak Numfor yang berarti laut yang daIam dan bergelombang.

Kata Soren digunakan pertama kali oleh suku Biak Numfor yang berlayar pada zaman dahulu dengan perahu-perahu layar dari satu pulau ke pulau lain hingga tiba dan menetap di Kepulauan Raja Ampat.

Suku Biak Numfor inilah yang memberi nama “Daratan Maladum ” (sekarang termasuk bagian dari wilayah Kota Sorong) dengan sebutan “Soren” yang kemudian dilafalkan oleh para pedagang Thionghoa, Misionaris clad Eropa, Maluku dan Sangihe Talaut dengan sebutan Sorong.

Sejak tahun 1945, sebelum Perang Dunia ke-II, yaitu semasa penjajahan Pemerintahan Belanda atas Kepulauan Indonesia, maka Kota Sorong pada sekitar tahun 1935 dibuka sebagai Base Camp Bataafse Petroleum Maatschappy (BPM) sedangkan pos pemerintahan mengambil lokasi pada Pulau Doom.

Pada tahun 1969, dengan selesainya pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) maka perkembangan status dari Kota Administratif menjadi Kota Otonom ini tidak ada perubahan dalam pembagian wilayah dan keadaan sampai dengan akhir tahun 1972 adalah sebagai berikut:

  1. Wilayah Pemerintahan Setempat Sorong dengan ibukota Sorong
  2. Wilayah Pemerintahan Setempat Raja Ampat dengan ibukota Sorong Doom
  3. Wilayah Pemerintahan Setempat Teminabuan dengan ibukota Teminabuan
  4. Wilayah Pemerintahan Setempat Ayamaru dengan ibu kota Ayamaru.

Pembagian wilayah di Sorong seperti tersebut di atas berlaku sampai tahun 1973 saat dilakukannya penghapusan wilayah-wilayah Kepala Daerah Setempat dan sejumlah distrik dan dibentuknya Pemerintahan Wilayah Kecamatan Tahap Pertama Tahun 1973-1974.

GambarKota Sorong yang terletak di kepala burung Papua Barat

Gambar

Pemerintahan

Secara administratif, Kota Sorong terdiri dari 6 distrik (setingkat dengan kecamatan), yaitu Sorong, Sorong Barat, Sorong Kepulauan, Sorong Timur, Sorong Utara dan Sorong Manoi. Kemudian dibagi lagi atas 31 kelurahan yang tersebar pada masing-masing distrik tersebut.

Sejarah

Menurut sejarah, nama Sorong diambil dari nama sebuah perusahan Belanda yang pada saat itu diberikan otoritas atau wewenang untuk mengelola dan mengeksploitasi minyak di wilayah Sorong yaitu Seismic Ondersub Oil Niew Guines atau disingkat SORONG pemerintah tradisonal di wilayah Kabupaten Sorong awal mulanya dibentuk oleh Sultan Tidore guna perluasan wilayah kesultanan dengan diangkat 4 (empat) orang Raja yang disebut  Kalano Muraha atau Raja Ampat . Keempat raja itu diangkat sesuai dengan 4 pulau besar  yang tersebar dari gugusan pulau-pulau dengan wilayah kekuasaan adalah sebagai berilkut :

a.    Raja Fan Gering menjadi Raja di pulau Waigeo
b.    Raja Fan Malaba menjadi Raja di Pulau Salawati
c.    Raja Mastarai menjadi  Raja di Pulau Waigama
d.    Raja Fan Malanso menjadi Raja di Lilinta Pulau Misool

Melihat rentetan sejarah seperti tersebut diatas, maka nampak jelas terbukti bahwa daerah Irian Jaya khususya Kabupaten Sorong sejak dahulu telah mempunyai hubungan dengan wilayah bumi Nusantara. Nampak pula semboyan Bhineka Tunggal Ika tercermin bagi pedududk Kabupaten Sorong khusunya di Kepulaun Raja Ampat. Beberapa factor yang membuktikan adanya hubungan baik social budaya, ekonomi dan politik dimasa itu adalah :

  1. Kain Timur yaitu sejenis kain tenunan tangan yang digunakan di seluruh Daerah Kepala Burung, sebagai alat pembayaran dan mempunyai nilai yang sangat tinggi terutama sebagai mas kawain.
  2. Adanya berbagai jenis peralatan dapur, parang, kapak dan sebagainya.
  3. Nama-nama pangkat dan jabatan pada Pemerintah Kampung seperti sangaji  (Bidang Pemerintahan) ,Kapaitan, Laut dan Mayor (bidang keamanaan) ,Marinyo (Bidang Keagaamaan) dan sebagainya identik dengan nama-nama kepulauan di Ternate.

Geografi

Secara geografis, Kota Sorong berada pada koordinat 131°51′ Bujur Timur dan 0° 54′ Lintang Selatan, memiliki batas-batas sebagai berikut :

Sebelah Timur : berbatasan dengan Distrik Makbon (Kabupaten Sorong) dan Selat Dampir Sebelah Barat : berbatasan dengan Selat Dampir Sebelah Utara : berbatasan dengan Distrik Makbon (Kabupaten Sorong) dan Selat Dampir Sebelah Selatan : berbatasan dengan Distrik Aimas (Kabupaten Sorong) dan Distrik Salawati (Kabupaten Raja Ampat)

Luas wilayah Kota Sorong mencapai 1.105,00 km2, atau sekitar 1.13% dari total luas wilayah Papua Barat. Wilayah kota ini berada pada ketinggian 3 meter dari permukaan laut dan suhu udara minimum di Kota Sorong sekitar 23, 1 ° C dan suhu udara maximum sekitar 33, 7 ° C.

Curah hujan tercatat 2.911 mm. Curah hujan cukup merata sepanjang tahun.

Tidak terdapat bulan tanpa hujan, banyaknya hari hujan setiap bulan antara 9 – 27 hari. Kelembaban udara rata-rata tercatat 84 %.

Keadaan topografi Kota Sorong sangat bervariasi terdiri dari pegunungan, lereng, bukit-bukit dan sebagian adalah dataran rendah, sebelah timur di kelilingi hutan lebat yang merupakan hutan lindung dan hutan wisata.

Sumber : sorongkota.bps.go.id

Kependudukan

Menurut data yang diperoleh P2KP-3 Pilot Project, rata-rata pertumbuhan penduduk Kota Sorong mencapai 4% selama 2 tahun sejak kota Sorong menjadi kota administratif yang terpisah dari Kabupaten Sorong.

Pariwisata

Kota Sorong terkenal sebagai salah satu kota dengan peninggalan sejarah bekas perusahaan minyak milik Belanda Heritage Nederlands Neuw Guinea Maschcapeij (NNGPM). Beberapa kawasan wisata lainnya adalah taman rekreasi pantai Tanjung Kasuari dengan pesona pasir putihnya, termasuk kawasan pantai pada Pulau Raam, Pulau Soop dan Pulau Doom.

GambarBandara kecil DEO – Sorong

Itulah gambaran sekilas kota Sorong, menurut beberapa blog yang pernah saya baca di Kota ini terdapat satu buah mall dan lebih banyak warga pendatang dibandingkan warga aslinya.

Mungkin tulisan ini akan dilengkapi bila penulis berada disana langsung

Gambar

Gambar

Gambar

BANGKIT (Karya: Dedy Mizwar)

Gambar
Bait kata dari Jendral Naga Bonar ini benar-benar bermakna dalam. Memang enak mendengar sang Jendral kadang tampil bersosok kiyai membacakan rangkaian kata ini.

Bait demi bait membakar rasa empati, semangat akan kebenaran, berhati-hati akan keburukan, keinginan berprestasi, harga diri sebagai bangsa dan malu akan ketidak berdayaan.

Sebuah inspirasi untuk kita berkarya demi kemajuan bangsa ini. Inilah untaian kata dari sang jendral :

BANGKIT (Karya: Dedy Mizwar)

Bangkit itu SUSAH!
Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang

Bangkit itu Takut…
Takut korupsi
Takut makan yang bukan haknya

Bangkit itu Mencuri!
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi…

Bangkit itu MARAH!
MARAH!!! Bila martabat bangsa dilecehkan!

Bangkit itu malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu

Bangkit ituTidak ada!
Tidak ada kata menyerah!
Tidak ada kata putus asa!

Bangkit itu… AKU!
Untuk Indonesiaku…

Tujuh Tokoh Nasional Jadi Dewan Pembina GAFATAR

Gambar

 

Jakarta, GATRAnews – Rapat Kerja Nasional pertama DPP Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) 2013 yang tengah berlangsung di Bali pada 18-21 Januari, telah menobatkan Bibit Samad Rianto dan enam tokoh lainnya sebagai Dewan Pembina organisasi kemasyarakatan berlambang fajar menyingsing itu.

Sekretaris Jenderal DPP Gafatar, Berny Satria, melalui pesan singkatnya, Sabtu (19/1) menerangkan bahwa Rakernas yang berlangsung di The Royal Pita Maha Convention Hall Bali, yang dihadiri mantan Wakil Ketua KPK, 2007-2011, Bibit Samad Rianto; Pjs Menteri Sekretaris Negara tahun 2000, Bondan Gunawan, dan Konsultan Politik Masyarakat(Polmas), Fred Sumampow.

Menurutnya, pada Rakernas itu DPP Gafatar juga melantik tujuh dewan pembina, di antaranya, 4 Dewan Pembina yang dilantik selain ketiga tokoh di atas, adalah Koesoemo Hartami Hadiningrat, Arbiningsih, Abdul Hafid, dan Laeli Titiek Danumiharjo.

Pada acara itu, kata Berny, Bibit Samad Rianto, Bondan Gunawan, dan Fred Sumampow akan memberikan pandangannya tentang berbagai topik saat menjadi pembicara pada sarasehan dan dilanjutkan dengan agenda rapat kerja serta penutupan di The Suly Resort and Spa, Ubud, Bali.

“Rakernas Gafatar kali ini akan mengusung Tema Peningkatan Kinerja Organisasi, Kepedulian Sosial Budaya, dan Pengamalan Pancasila melalui Optimalisasi Pelaksanaan Program Kerja Tahun 2013,” kata Berny.

Selain itu, ujar Berny, Rakerna Gafatar ini juga akan diikuti  pengurus DPP dan perwakilan dari 17 DPD serta perwakilan dari 16 Daerah Binaan yang tersebar di seluruh Indonesia dengan total peserta sebanyak 144 orang.

Dalam Rakernas tersebut, ketiga tokoh yang di daulat menjadi pembicara dalam Sarasehan akan membawa berbagai pencerahan dengan topik yang di kemas sangat menarik. Seperti  IrJen Pol (Purn) Bibit Samad Rianto yang akan membawakan topik “Pengembangan Budaya Organisasi Melalui Penerapan Nilai-nilai Luhur Budaya Nusantara”.

“Sedangkan Bondan Gunawan akan membahas budaya bertajuk ‘Memahami Spiritual Budaya Asli Nusantara dalam Rangka Membangkitkan Semangat  Kebangsaan’ dan Fred Sumampow sebagai Konsultan Polmas akan membahas ‘Peningkatan Kinerja Organisasi Berbasis Karakter Yang Baik dan Benar’,” ujarnya.

Seperti diberitakan, Gafatar merupakan organisasi sosial yang selalu konsen dengan kepeduliannya pada aksi sosial dan wawasan kebangsaan berbasis wawasan nusantara yang telah tumbuh dengan baik. Bahkan Gafatar juga telah berhasil menggandeng tokoh-tokoh nasional untuk terlibat di dalam gerakan aksi sosial ini meski organisasi kemasyarakatan ini baru berdiri pada tanggal 14 Agustus 2011 dan dideklarasikan secara nasional pada tanggal 21 Januari 2012 di Jakarta dan saat ini telah tumbuh dengan baik. (IS)

http://www.gatra.com/politik/23375-tujuh-tokoh-nasional-jadi-dewan-pembina-gafatar.html

Bibit Samad Rianto, Jadi Pembicara Dalam Rakernas GAFATAR di Bali

Gambar

Jakarta – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke 1 DPP Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Tahun 2013 ini akan berlangsung selama empat hari, 18 – 21 Januari 2013 di Bali, di perkirakan akan menarik perhatian publik. Pasalnya sejumlah tokoh yang peduli pada pelestarian budaya Nusantara akan hadir dalam Rekernas organisasi berlambang Fajar matahari itu.

Sekretaris Jenderal DPP Gafatar, Berny Satria mengatakan, Rakernas yang akan berlangsung  di The Royal Pita Maha Convention Hall itu, akan di hadiri  IrJen POL. (Purn) Dr. Bibit Samad Rianto, MM, Ph.D. Wakil Ketua KPK, 2007-2011 dan Bondan Gunawan, Pjs. Menteri Sekretaris Negara tahun 2000 juga akan hadir  Konsultan Politik Masyarakat(Polmas) Fred Sumampow.

Ketiga tokoh tersebut, kata Berny, akan memberikan pandangannya dalam berbagai topik saat menjadi pembicara pada sarasehan dan dilanjutkan dengan agenda rapat kerja serta penutupan di The Suly Resort and Spa, Ubud, Bali.

“Rakernas Gafatar kali ini akan mengusung Tema Peningkatan Kinerja Organisasi, Kepedulian Sosial Budaya, dan Pengamalan Pancasila melalui Optimalisasi Pelaksanaan Program Kerja Tahun 2013” jelasnya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (18/01).

Selain itu, menurut Berny, Rakerna Gafatar ini juga akan diikuti  pengurus DPP dan perwakilan dari 17 DPD serta perwakilan dari 16 Daerah Binaan yang tersebar di seluruh Indonesia dengan total peserta sebanyak 144 orang.

Dalam Rakernas tersebut ketiga tokoh tersebut yang di daulat menjadi pembicara dalam Sarasehan akan membawa berbagai pencerahan dengan topik yang di kemas sangat menarik. Seperti  IrJen POL. (Purn) Dr. Bibit Samad Rianto, MM, Ph.D. Akan membawakan topik: “Pengembangan Budaya Organisasi Melalui Penerapan Nilai-nilai Luhur Budaya Nusantara”.

“Sedangkan Bondan Gunawan Pjs. Menteri Sekretaris Negara akan membahas. Budaya dengan topik: “Memahami Spiritual Budaya Asli Nusantara dalam Rangka Membangkitkan Semangat  Kebangsaan” dan Fred Sumampow sebagai
Konsultan Polmas akan membahas dengan topik: “Peningkatan Kinerja Organisasi Berbasis Karakter Yang Baik dan Benar” bebernya.

Seperti di ketahui Gafatar merupakan organisasi sosial yang selalu konsen dengan kepeduliannya pada aksi sosial dan wawasan kebangsaan berbasis wawasan nusantara yang telah tumbuh dengan baik. Bahkan  Gafatar juga telah berhasil menggandeng tokoh-tokoh nasional untuk terlibat di dalam gerakan aksi sosial.

Padahal  Organisasi kemasyarakatn ini baru berdiri pada tanggal 14 Agustus 2011 dan dideklarasikan secara Nasional pada tanggal 21 Januari 2012 di Jakarta dan saat ini telah tumbuh dengan baik. (RW-12)

http://halonusantara.com/?p=2294

Bibit Samad Rianto jadi Dewan Pembina GAFATAR

Gambar
 
JAKARTA – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I DPP Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), melantik mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2007-2011, Bibit Samad Riyanto, menjadi Dewan Pembina.

Menurut Sekretaris Jenderal DPP Gafatar, Berny Satria, beliau dinobatkan karena kepeduliannya yang sangat besar terhadap pemberantasan korupsi dengan senantiasa mengedepankan budaya Nusantara.

“Apa yang beliau lakukan dalam pemberantasan korupsi, benar-benar cerminan semangat budaya Nusantara. Meski terus coba dikriminalisasi, beliau tetap tabah menjalani dan tidak pernah merasa khawatir. Makanya kita memandang beliau sangat tepat duduk menjadi salah seorang anggota dewan pembina Gafatar,” katanya di Jakarta, Sabtu (19/1).

Berny yakin dengan semangat yang dimiliki Bibit, maka Gafatar sebagai organisasi sosial yang fokus mengembangkan wawasan kebangsaan berbasis budaya Nusantara, dapat terus berperan besar bagi perbaikan masa depan bangsa.

Direncanakan penobatan dilakukan pada sesi terakhir Rakernas yang berlangsung di Bali yang digelar 18-21 Januari 2013. Bersama Bibit turut dilantik mantan Pejabat Sementara (Pjs) Menteri Sekretaris Negara, Bondan Gunawan, dan Konsultan Politik Masyarakat (Polmas), Fred Sumampouw.

“Pak Bibit juga kita nobatkan menjadi pembicara. Beliau mengangkat thema pengembangan budaya organisasi melalui penerapan nilai-nilai luhur budaya Nusantara. Pak Bondan sendiri membagikan wawasan bagaimana kita harusnya memahami spiritual budaya asli Nusantara dalam rangka membangkitkan semangat  kebangsaan. Sementara Fred berbicara tentang peningkatan kinerja organisasi berbasis karakter yang baik dan benar,” katanya.

Rakernas yang mengangkat thema “Peningkatan Kinerja Organisasi, Kepedulian Sosial Budaya, dan Pengamalan Pancasila melalui Optimalisasi Pelaksanaan Program Kerja Tahun 2013, diikuti  pengurus DPP, perwakilan 17 DPD serta perwakilan 16 Daerah Binaan yang tersebar di seluruh Indonesia dengan total peserta sebanyak 144 orang.(gir/jpnn)

 

Gambar

GAFATAR DKI Jakarta Kerahkan 600 relawan untuk membersihkan Monas sejak jam 3 pagi di Tahun Baru 2013

Gambar

Warga yang tidur di halaman Monumen Nasional selepas merayakan Tahun Baru 2013