2. Kebakaran di Jakarta Salah siapa?

http://suarajakarta.com/2011/10/05/kebakaran-di-jakarta-salah-siapa/

Jakarta – Sebagai ibukota Indonesia, Jakarta dikenal sebagai kota berstruktur padat, sebagian kumuh dan masyarakat heterogen. Kehidupan masyarakatnya bergerak dinamis dan sulit dicegah. Kehidupan itu semakin ditunjang kemewahan dan pola hidup modern masyarakat Jakarta. Gedung pencakar langit, pusat hiburan dan mall dibangun untuk meneguhkan posisi Jakarta sebagai lambang percontohan kota di Tanah Air.

Tapi, meski menyimpan sejuta keindahan, rasanya sulit dipungkiri Jakarta menyimpan sejuta masalah. Salah satunya problematika kebakaran yang rutin menyapa masyarakat Jakarta akhir-akhir ini. Hampir setiap hari, keamanan nyawa dan harta mendapat ancaman dari maut berupa api. Pesona “sang ahli” Jakarta dipertanyakan karena mengurus kebutuhan dasar masyarakat seperti keamanan saja gagal tercapai.

Kedekatan jarak antar rumah, perilaku masyarakat, hubungan pendek listrik dan lemahnya pengawasan pemerintah dianggap sebagai penyebab utama kebakaran. Sinergitas Fauzi Bowo dan jajaran pemerintah DKI Jakarta dengan masyarakat belum terjalin baik. Sehingga ketika terjadi kebakaran, keduanya sibuk saling menyalahkan dibandingkan mengupayakan sebuah solusi terbaik.

Tingkat kebakaran di Jakarta termasuk kategori tinggi. Berdasarkan data Dinas Damkar dan PB DKI, kasus kebakaran di Jakarta (Oktober 2011) mencapai 736 kasus. Jakarta Barat menempati urutan pertama (183 kasus), Jakarta Selatan (169 kasus), Jakarta Timur (162 kasus), Jakarta Utara (140 kasus), Jakarta Pusat (81 kasus) dan Kepulauan Seribu (1 kasus). Jadilah api seolah menjadi kawan akrab masyarakat ibukota menjalani kesehariannya.

Fenomena maraknya kebakaran meninggalkan tanda tanya besar. Mengapa lemah sekali pengawasan pemda DKI Jakarta dalam melindungi warganya? Sejuta pertanyaan lain mungkin banyak bermunculan di pikiran warga Jakarta. Semua pertanyaan itu wajar, sebab warga sering menghadapi kobaran api yang merugikan baik materil dan non imateril. Aktivitas warga terganggu, perekonomian terhenti, korban berjatuhan dan rumah hangus terbakar adalah segelintir dampak negatif adanya kebakaran. Salah Siapa?

Menyoal kebakaran di Jakarta bagaikan mengurai benang kusut atas lemahanya pengelolaan kota dan perlindungan kepada masyarakat DKI Jakarta. Sebagai sebuah bencana akibat human error, kesalahan yang menimbulkan kebakaran tidak terjadi secara individu. Sering kebakaran terjadi karena perilaku kolektif masyarakat. Keisengan bermain api misalnya tanpa disadari bisa menjadi kebakaran besar yang menelan korban dan menghanguskan harta benda.

Selama ini pemerintah daerah sendiri menuding minimnya anggaran sebagai salah satu akar persoalan utama. Kekurangan dana mengakibatkan fasilitas pemadam kebakaran sangat jauh dari harapan. Banyak peralatan pemadam kebakaran yang sudah beruzur dan tidak layak pakai. Dari 1.418 hidran yang ada dibeberapa wilayah DKI Jakarta, sebanyak 718 tidak berfungsi. Dari jumlah ini 433 hidran tak bisa digunakan karena tak ada kopling (penutup hidran). Sedangkan ada 308 hidran tidak dapat mengeluarkan air. Anggaran 378 juta yang digunakan merelokasi hidran, memperbaiki kopling yang rusak atau hilang dan menyambung pipa air dinilai masih kurang.

Persoalan kebakaran di Jakarta sendiri banyak dialami pemukiman padat. Salah satunya adalah masalah korsleting listrik dimana banyak sambungan listrik warga yang ilegal. Pencurian listrik menjadi salah satu modus penyebab kebakaran. Perilaku warga sendiri dipicu kurang tegasnya PLN mengawasi dan menertibkan warga yang meningkatkan daya listrik secara illegal. Akibat meningkatnya daya listrik, sebuah pemicu api dari sebuah kebakaran dapat cepat meluas dan membakar apa yang ada di sekitarnya. Selama Oktober 2011, dari total 736 kasus kebakaran di DKI Jakarta, sekiitar 457 kasus dipicu adanya arus pendek listrik.

Kesepakatan Kolektif

Masalah kebakaran sudah sering  terjadi sehingga meninggalkan dampak kerusakan yang besar. Untuk itu, warga menuntut keseriusan pemerintah daerah mengatasinya. Tindakan pembiaran akan menimbulkan ekspresi kekecewaan mendalam masyarakat atas kinerja pemerintah daerah. Apalagi kerugian akibat kebakaran Jakarta sudah mencapai Rp 174 miliar dan mengakibatkan korban jiwa 12 warga dan 61 orang luka-luka. Untuk itu, pemerintah daerah perlu mencari solusi efektif mencegahnya.

Pertama, Sosialiasi tentang pencegahan dini bahaya kebakaran. Selama ini proses sosialiasi kepada masyarakat terhadap pencegahan dan penanggulangan kebakaran sangat minim. Warga dibiarkan terjebak dalam kebodohan mengatasi masalah api. Akibatnya warga mudah panik ketika melihat api yang berkobar meski kecil. Mereka bingung bagaimana cara memadamkan karena minimnya pengetahuan. Dampaknya api dalam skala kecil dapat membesar dan membakar rumah di sekitarnya.

Kedua, kebiasaan membuang rokok sembarangan. Rokok sangat berpotensi menjadi salah satu penyebab kebakaran jika dibuang sembarang tempat. Dapat dibayangkan ketika rokok bertemu kertas dan bahan mudah terbakar. Perpaduan keduanya ditambah angin kencang dan cuaca panas akan membuat api cepat meluas.

Ketiga, pendidikan anti kebakaran. Pemerintah daerah perlu membuat sebuah mekanisme pelatihan mengatasi kebakaran. Pelatihan ini bertujuan memberikan keterampilan dan pemahaman kepada warga. Sehingga ketika terjadi peristiwa kebakaran mereka sudah paham apa yang harus dilakukan. Selama ini mekanisme ini belum berjalan baik sebab pemerintah daerah sendiri belum serius mengurus bahaya kebakaran di Jakarta. Padahal melihat tipikal perumahan Jakarta yang padat dan saling berdekatan, potensi kebakaran sangat tinggi. Dalam melaksanakan kegiatan ini, pemda dapat mengajak elemen mahasiswa, masyarakat dan remaja. Sarana kampus, aparat lingkungan (RT/RW) dan Karang Taruna dapat dilibatkan untuk membuat pelatihan ini.

*) Penulis adalah peneliti Institute For Reform Sustainable

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s