Merenungkan Kembali “Tan Hana Dharma Mangrwa”

Gambar

Merenungkan Kembali “Tan Hana Dharma Mangrwa”
Oleh: PAULUS LONDO
“Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan, hana dharma mangrwa.” (pupuh 139, bait 5)

“Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu tapi satu jualah, tiada kerancuan dalam kebenaran.” (pupuh 139, bait 5)

“Bhinneka Tunggal Ika,” berarti “beranekaragam tapi satu,” tentu sudah menjadi pengetahuan umum. Tapi, mungkin ada yang belum tahu, bahwa kalimat itu tidak utuh. Sebab sebenarnya mesti dilengkapi dengan kalimat “Tan Hana Dharma Mangrwa” di depannya, sehingga dapat memberikan makna yang utuh. Mpu Tantular, sang maha cendekia kerajaan Majapahit sebagai sahibulkalimat dalam karyanya berjudul “Sutasoma” memang tidak memisahkan dua kalimat ini. Sebab “Tan Hana Dharma Mangrwa” yang bermakna “Tiada Pengabdian Yang Mendua” sesungguhnya menjelaskan prinsip yang mendasari kehidupan dari satu bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika” (beranekaragam tapi satu).

Manusia penghuni Nusantara memang terdiri dari beraneka ragam suku, agama, latar belakang sosial, tapi sesungguhnya ddi dalam dirinya bersemayam nilai-nilai perekat kebersamaan, yakni kesadaran akan pengabdian terhadap Tuhan Maha Esa, kepada kemanusiaan yang adil dan beradab, terhadap keberlangsungan hidup bersama, yang kemudian oleh Ir. Soekarno disebut sebagai Pancasila.

Makna hakiki dari “tan hana dharma mangrwa” itu tentu relevan direnungkan kembali, agar bangsa ini tidak terus menerus terjebak dijalan sesat. Sebab, bukankah karut marut yang mendera selama ini akibat penduaan dharma yang bermula pada kalangan elite, tapi kemudian menular ke masyarakat luas.

Kenyataan yang terjadi saat ini adalah kalangan politisi telah menduakan dharmanya, dengan mengatasnamakan rakyat untuk menindas rakyat, para pejabat negara disatu sisi mengaku sebagai abdi negara tapi juga sekaligus menguras kekayaan negara untuk diri sendiri dan kelompoknya, para penegak hukum yang seharusnya mengabdi demi tegaknya kebenaran dan keadilan hukum, justru kian telanjang memperkosa dewi keadilan itu sendiri, dan ironisnya lembaga pendidikan sebagai lahan persemaian bagi tumbuhnya karakter kebangsaan justru kian kehilangan karakternya sendiri.

‘Tan Hana Dharma Mangrwa’ menegaskan pentingnya tindakan nyata. Yakni dharma bagi kemanusiaan, bagi perbaikan kesejahteraan rakyat. Dharma itu bersifat tunggal tidak bisa berlaku ganda. Ia berpusat pada perbaikan kualitas hidup manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Karena tidak bisa dimanipulasi dengan pencitraan. Sebab, betapa pun hebatnya polesan pencitraan, pada saatnya baik atau buruknya pelaksanaan dharma kepemimpinan akan terkuak juga.

Lahir Dari Kegalauan

Menurut sejarahnya, karya sastra “Sutasoma” memang tercipta akibat kegelisahan Mpu Tantular yang ikut merasakan kegelisahan Hayam Wuruk menyaksikan sepak terjang Maha Patih Gajah Mada yang kian ganas menaklukan negara-negara tetangga dengan kekerasaan. Pada hal negara tetangga mesti diperlakukan sebagai mitreka satata, sebagai mitra setara bahkan sebagai saudara sendiri.

Dalam hal ini, Gajah Mada tentu tidak salah. Sebab, untuk memenuhi permintaan Sri Ratu Tri Bhuana Tungga Dewi (Ibunda Hayam Wuruk), ia telah mengucapkan Sumpah Amukti Palapa, yakni ikrar akan mempersatukan nusantara di bawah payung singgasana Majapahit. Untuk mengejar ambisinya itu, pendekatan hegemoniasi melalui pendudukan militer, dominasi ekonomi dan pemaksaan keyakinandan agama dilakukan secara masif.

Tapi, Hayam Wuruk menyadari persatuan dan kesatuan yang dirajut dengan kekerasan, penaklukan, tipu daya, pemaksaan, tak akan melahirkan persatuan sejati. Ia akan senantiasa menyimpan dendam yang terus membawa bagaikan api dalam sekam, yang pada gilirannya mengancam persatuan nusantara. Karena itu, perlu pendekatan baru untuk merekatkan persatuan bangsa ini. Yakni perekat yang dapat mengakomodasi tuntutan hati nurani manusia yang hakiki, yang membawa ketentraman dan kedamaian bagi semua.

Semangat inilah yang ditangkap oleh Mpu Tantular dan kemudian dituangkan dalam Sutasoma. Tujuannya, disatu sisi sindiran kepada Gajah Mada agar dalam ambisinya mempersatukan nusantara tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusian, di sisi lain sekaligus sebagai dasar paradigma baru dalam membangun dan memelihara persatuan dan kesatuan rakyat nusantara.

Tentu tirta kearifan Mpu Tantular yang mengalir dari Bhumi Wilwatikta ini, terasa relevan untuk direguk kembali oleh bangsa kita dewasa ini, demi merekatkan kembali berbagai keretakan yang menggores tubuh bangsa kita. Pesan moral dari sasanti “tan hana dharma mangrwa, bhinneka tunggal ika” sesungguhnya adalah pernyataan kasih yang patut disemaikan dalam kehidupan kemajemukkan bangsa ini.

“Semailah selalu  kasih damai, di hati dan di bumi. Kasih kepada Hyang Widhi, kasih kepada bumi pertiwi dan kasih kepada sesama insan kehidupan. Mari, mari bersama menyucikan nurani memajukan bangsa. Mari berkasih damai menegakkan kebenaran tanpa amuk kekerasan. Mari berkasih mesyukuri keindahan pelangi keberagaman kita.” Itulah peringatan Sutasoma kepada Purushaada, raja lalim yang selama ini menindas rakyatnya sendiri. (LS2LP)

http://filsafat.kompasiana.com/2012/06/20/merenungkan-kembali-%E2%80%9Ctan-hana-dharma-mangrwa/

One thought on “Merenungkan Kembali “Tan Hana Dharma Mangrwa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s