Beda Mengasuh Anak Ala Sengkuni VS Antagopa

Tulisan yang ditulis kali ini bukan murni 100% tulisan dari saya. Sempat tergelitik saat membaca sebuah tulisan karya Ono Sarwono di koran Media Indonesia hal 10, Minggu 22 September 2013 dengan judul serupa, Antara Sengkuni dan Antagopa. Karena menurut saya sayang bila hanya menggelitik saya seorang, maka layak saya sajikan kepada pembaca blog yang beriman🙂

Cerita dibawah berkutat soal bagaimana dua tokoh pewayangan beda alam tersebut mengasuh anak-anaknya untuk mengukir masa depan.

 

Kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan AQJ, 13, dan mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia memunculkan kembali diskusi publik soal pola pengasuhan anak. Memang tidak sedikit orangtua berpunya di negeri ini yang memanjakan buah hati mereka dengan kelimpahan materi tanpa wanti-wanti. Sebagian lain adapula memberikan bekal pas sesuai kebutuhan sang anak. Begitu pula dalam pendidikan. Ada yang memilih ini dan itu, yang semuanya diyakini sebagai yang terbaik.

Tentu, mengasuh dan mendidik anak adalah hak orangtua. Mereka juga bebas untuk menentukan terkait dengan hal itu. Seperti halnya yang dilakukan penguasa ad interim Negeri Astina Destarastra dan Raja Mandura Basudewa. Keduanya sama-sama menyerahkan anak-anak mereka kepada pihak lain untuk digulawentah – diasuh dan dibesarkan.

Anak Destarastra, yang berjumlah seratus orang dan dikenal dengan Kurawa, ditangani adik iparnya, Tri Gandalpatri, yang kelak dikemudian hari, kondang dengan nama Sengkuni. Adapun tiga anak Basudewa diasuh demang – kepala dusun – bernama Antagopa bersama istrinya, Nyai Sagopi, di Widarakandang yang masih dalam wilayah Mandura.

Pragmatisme

Keputusan Destarastra agar anak-anaknya dididik Sengkuni itu lebih banyak karena pengaruh istrinya, Dewi Gendari. Di sisi lain, Destarastra sendiri merasa keterbatasan fisik karena sejak lahir tidak pernah meilhat padangnya jagat alias tunanetra.

Hubungan Gendari dan Sengkuni adalah kakak dan adik. Gendari berambisi anaknya dididik dan menjadi raja di Astina jika raja Prabu Pandudewanata lengser. Itu target impulsif karena berdasarkan konstitusi Astina, jika Raja Pandudewanata berhalangan tetap atau mangkat, yang menjadi raja semestinya adalah anaknya, keluarga Pandawa.

Sengkuni, yang kaya akal-ukil, mengasah Kurawa siang malam dengan aliran Pragmatisme. Motonya, hidup untuk kenikmatan duniawi. Akhirnya, semua keponakannya itu rata-rata menjadi hedonis dan gandrung foya-foya. Dalam berpolitik pun, mereka semua penganut mahzab Niccoli Machiavelli, yakni menghalalkan segala cara.

Berkat kelimpahan dan keculasannya, Sengkuni akhirnya memang sukses mengantarkan sulung Kurawa, Duryudana, menjadi raja. Kekusaan itu direbut melalui kudeta berbingkai tipu muslihat. Untuk memenangkan takhtanya, Kurawa diindoktrinasi bahwa satu-satunya cara adalah dengan membinasakan Pandawa, saudara sepupu mereka sendiri. Tetapi, kodrat menentukan lain. kekuasaan Duryudana tidak bertahan lama. Bahkan, ia dan seluruh keluarga Kurawa mati konyol di tangan Pandawa di Kurusetra dalam perang Baratayuda. Bukan itu saja anak keturunan Kurawa pun tumpes kelor, habis hingga akarnya.

 

Disayangi Dewa

Berbeda dengan Basudewa. Ia sengaja meminggirkan ketiga anaknya – Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng – dari kehidupan istana yang serba ada ke dusun Widarakandang atas dasar keyakinan dan visi ke depan. Ini sebetulnya keputusan beresiko karena ketiga anak itu adalah penyambung estafet penguasa di Mandura. Istana Mandura sebenarnya tidak kekurangan guru pintar atau begawan dan resi yang khatam segala ilmu tata negara dan Kanuragan.

Namun, Basudewa kukuh bahwa anak-anaknya disingitkan di desa. Ia ingin anak-anaknya mengasah kepekaan rasa dan batinnya dengan hidup sebagai warga berkasta pidak pedaran atau jelata.

Karena di dusun, materi-materi yang diajarkan Antagopa dan Sagopi kepada Kakasrana dan adik-adiknya tidak jauh dari urusan sawah dan ladang. Setiap malam, atau di sela-sela kesibukan keseharian, mereka dibekali pendidikan budi pekerti dan tuntunan luhur.

Singkat cerita, Kakasrana, Narayana, dan Rara Ireng menjadi anak-anak terkemuka yang rendah hati dan prasaja. Mereka menjadi mustika Mandura sekaligus anak anung anindita, yang artinya anak yang bisa menjunjung tinggi harkat dan martabat orangtua dan leluhur.

Lebih dari itu, para dewa di Kahyangan pun angkat topi atas kualitas luar dalam ketiganya. Mereka pun pernah memerintahkan Kakasrana dan Narayana mengenyahkan satru (musuh) yang menjamah kesucian Kahyangan. Tugas itu dilaksanakan dengan tuntas.

Dewasanya, Kakasrana menjadi raja Mandura setelah ayahnya, Basudewa meletakkan jabatan. Narayana, dengan kesucian mata batinnya, menjadi ‘rumah’ bagi Bethara Wisnu, dewa pengatur ketentaraman jagat. Narayana juga menjadi raja di Dwarawati. Adapun Rara Ireng menurunkan cucu yang berkuasa di Yawastina, Parikesit.

Dari cerita itu, kita bisa ambil nilainya, bagaimana sebaiknya mendidik anak yang sesungguhnya merupakan amanah. Kurawa yang pragmatis berakhir konyol. Adapun Kakasrana dan adik-adiknya yang sejak kecil hingga dewasa digenturkan tapa dan laku prihatin, akhirnya memetik hasilnya menjadi priyai-priyai agung linuwih.

 

Image

One thought on “Beda Mengasuh Anak Ala Sengkuni VS Antagopa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s